Tags
Culture, Entertainment, Family, Filsafat, Humor, Ilmu, Media Technology, Refleksi, Relegius, Teologi

Yesus berkata: “Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu. Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Lukas 12:29-34 TB-LAI)Apakah Yesus seorang yang naif? Apakah Dia tidak memahami bahwa kita hidup di dunia yang menuntut kita untuk bekerja dengan keras dengan membanting tulang agar bisa memenuhi kebutuhan pokok kita? Ketika Anda membaca bagian Injil ini, Anda akan melihat bahwa Yesus sama sekali tidak naif. Suatu hari Dia berkata kepada para murid-Nya: “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. ” (Lukas 10:3).
Dalam teks ini, saat Dia berkata bahwa Allah mengetahui dengan baik segenap kebutuhan anak-anak-Nya, Yesus mengetahui bahwa umat manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan. Lantas, apa maksud Yesus saat berkata kepada para murid-Nya dengan nada memerintah: “Jangan kuatir”?
Di dalam dunia yang dikagumkan oleh rasa aman dan kenyamanan, Injil mengajukan sebuah pertanyaan mendasar: dalam hal apa aku meletakkan kepercayaanku sepenuhnya?, hal-hal apa saja yang berharga bagiku? Yesus berkata kepada para murid-Nya, di mana terletak harta mereka, disitulah hati mereka akan berada. Hati, dalam Alkitab, dipahami sebagai pusat dari keberadaan diri seseorang. Pusat di mana segala sesuatunya terangkum bersama—kecerdasan, kehendak, kemampuan kita untuk memutuskan sesuatu dan keinginan-keinginan hati yang terdalam. Dengan mudah kita dapat pula mengatakan bahwa hati dapat melekatkan diri pada harta yang dimilikinya. Itulah sebabnya sangatlah penting bagi kita untuk dapat menentukan pilihan dengan bijaksana dan mengakarkan diri pada apa yang sungguh-sungguh penting bagi kita.
Bagi Yesus, harta baginya adalah Kerajaan Allah. Berbicara tentang Kerajaan Allah berarti berbicara tentang Allah. Melekatkan hati kepada Kerajaan Allah adalah cara untuk mengungkapkan bahwa Allah dapat memberikan rasa aman yang sejati dan memberi arti bagi kehidupan kita.
Seorang murid adalah seseorang yang mencoba untuk menghayati kehidupan secara radikal dan melalui cara yang baru; percaya bahwa Allah, yang disebutkan sebanyak dua kali sebagai seorang “Bapa”, tahu apa yang kita butuhkan. ketika hati kita telah memahami hal ini maka hal-hal yang kita butuhkan untuk bisa hidup tidak lagi menjadi sumber dari kehidupan atau kunci dari kebahagiaan kita. Segala sesuatunya menemukan tempatnya masing-masing. “Bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah,” sebagaimana sebutan yang dikatakan oleh Yesus, melekatkan hati mereka di tempat yang salah, yaitu pada kekuatiran mereka.
Iman kepercayaan dapat membuka dan mengubah kehidupan seorang murid. “Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah.” Bagi mereka yang mendengarkan perkataan ini dan melaksanakannya, kehidupan mereka “kembali diluruskan”. Kebutuhan-kebutuhan pribadi mereka tidak lagi menjadi hal yang terpenting; mereka memulai kehidupan mereka bagi sesama. Dari yang semula yag berpusat hanya pada diri sendiri, mereka bergerak menuju kehidupan yang saling berbagi. Tentu saja ini merupakan cara hidup dari jemaat Kristen mula-mula (lihat Kis. 2:45; 4:34-37). Mungkin banyak orang mulai percaya bahwa Injil adalah benar-benar Kabar Baik karena mereka melihat bahwa bagi pengikut Kristus, Injil bukanlah hanya sekedar ungkapan kosong.
Dimanakah hartaku? Bagaimana kata-kata Yesus ini dapat mengubah caraku melihat prioritas-prioritas yang ada?
Jika aku harus menyederhanakan kehidupanku, baik secara material maupun spiritual, apa yang harus aku kesampingkan? Dan apa yang harus aku pertahankan?


